Kamis, 01 Desember 2011

M.E.L.U.K.I.S H.A.T.I


Seraut wajah melukis hati, memandang lepas tak berbingkai
Mata perih tersiram air garam, gaduh suara mengaduh
Hingga panas datang menyeka bumi peluh membasahi kening

Seraut wajah melukis hati, memandang lepas tak berbingkai
Kala gerimis menabur tawa, sekeping hati melukis kehidupan
Nampak indah dewi rembulan dipelupuk mata nan sayu

Lelaki mungil masih mampu tertidur pulas walau berbalut ompol
Suara ayam jantan bersahutan menandai turunnya para malaikat
Dan, semua kembali seperti semula kala bumi terjaga dari tidurnya.

Ketika logika berupaya memahami hati tanpa kata-kata.

Selasa, 10 Mei 2011

M.O.Z.A.I.K.  C.I.N.T.A
BY. ANDY NURVITA PADA 10 MEI 2011.

Pandangan mataku nanar tak lepas mengawasi keluar jendela
Hati bertanya, "apa gerangan yang sedang kucari-cari ?"
Kutemui kabut malam yang tebal melintas dikaki gunung merapi melukis wajah bijakmu hanya untukku sayang
Aku tak mungkin mengingkari takdirku sendiri
Jika waktuku tlah tiba, akan dihadapan pemuja cinta
Lidah berkata, "sejatinya akulah keabadian cinta"
Dikaki-kaki gunung merapi terkubur hati penuh mozaik cinta
Hanya pemuja cinta pemenang sayembara abadi seleksi alam
Yang pantas membawa pulang suam hati manusia memangku cinta
Perang hati tak lagi terelakkan
Dunia membaca dan menulis
Mata Dewi pancarkan cahaya terang kehidupan
Dewi sudi turun kebumi mengisahkan
Impian semu menjadi kenyataan
Semua kebijakan tlah tertulis
Dengan pena bijak milik cakra (cakra) wala
Menguak tabir kaki gunung merapi
Ibarat membenamkan gunung itu sendiri
Akan tiba satu jawaban lagi bagi hadirnya
Sang pemuja cinta sejati.

Senin, 11 April 2011

S.P.I.R.I.T.
Oleh Andy Nurvita Pada 12 April 2011.


Engkau terangi jiwa di kebisuan malam
Engkau padamkan lagi disingsing fajar
Luka goresan menyayat hampakan hidup 
Balasannya keringat salah dan dosamu 


Percuma menangis dibawah sayap langit
Tak perlu memaksa bila jera sekujur raga
Iklas lepas hasrat jiwa mencoba mengerti
Kemenangan tak mesti tiba menghampiri


Obati saja luka tubuh didepan cermin sendiri
Tutupilah sampai terbawa musim berganti lain
Walau memang setitik jangan biarkan asa mati
Bangun mimpimu kembali angkat beban dikakimu. 

Jumat, 08 April 2011


T.I.S.I.K.A.N. H.A.T.I.   
Oleh Andy Nurvita Pada 09 April 2011.

Hidup tak ada yang kebetulan
Hidup perangkap ujian
Tersimpan keikhlasan hati 
Setia saling menyayangi hidup serantai cobaan
Engkau tunggal pemilik hati
Pendosa merugi hidup 
Anugerah hidup pemuja kesetiaan
Pagi datang tawarkan gundah gulana hati
Dera tanya, "Dosa apa lagi kanku jelang hari ini ?"
Membunuh nyali menapak guliran hari demi hari
Terajam sembilu menyayat kalbu menisik nafas
Menatap anggun jagad raya langit ciut membekap jiwa
Mahacinta, "Pendekkan saja umurku !"
Apalah guna umurku panjang jika diri hanya merajut bathil
Mahacinta, "Hampa hidupku, sejak hati tertambat padamu
Tercatat indah dalam buku harianku
Tak ada lagi goresan takut disana
Yang ada hanya kerinduan padamu kekasih hati
Kerinduan tuntaskan rasa takutku
Aku memang bukan nabi
Aku memang bukan rasul
Aku memang bukan malaikat
Aku adalah manusia biasa
Manusia yang tak layak menempati surga
Tak sanggup mendiami neraka
Aku hilang diantara angkuhnya dosa
Kubiarkan saja nista bermain-main dipelupuk mata
Wahai mahacinta, "Jika hanya kebathilan yang mampu kuukir dalam hidup ini, cabut dan bawa saja pergi nyawaku !"
Ikhlas jiwaku kembali padamu
Tinggalkan semua yang kusayang 
Karena kuyakin ada atau tidak adanya aku
Telah kau tulis jalan hidup mereka
"Sesakit apapun, aku akan tersenyum kala menyambut sakaratul maut !"
Sebab takkan bertambah isi kotak hitam upah dosaku.
Airmata bukan ciri kesedihan tapi sirna sudah dukaku.











P.A.S.I.R. S.E.M.B.I.L.A.N.
Oleh Andy Nurvita Pada 08 April 2011.

Pemilik lembayung senja pasir sembilan
Matahari merona merah tersaput malu-malu
Riuh burung camar menuntun kisah kasih asmara
Tawa angin pecahkan suara ombak-ombak kecil 

Anganku sebebas burung camar
Terbang tinggi menembus awan
Memetik buah pohon cinta kahyangan 
Cuma impianku saja tebarkan aura cantik 
Menikmati keindahan batara malam sendiri

Senin, 04 April 2011



P.R.A.M.E.S.W.A.R.I.
Oleh Andy Nurvita Pada 05 April 2010.

Pelukan hangat mentari 
Melukis roman cakrawala pagi
Dinda prameswari, 
Bunga teratai cantik bersimpuh di keputren
Asa membumbung tinggi melayang 
Lukisan hayati simbol curahan jiwa
Cakrabuana gerus satu demi satu pertanyaan 
Bertahun mencari mustika tambatan jiwa
Terdengar bunyi gesekan hati diluar tembok keputren
Beterbangan busur panah ksatria-ksatria agung 
Nafsu tubuh telah meretas jiwa manusia
Berkali tampil burung-burung cakra ditengah samudera
Tapi, dinda prameswari enggan bergeming menggeleng getir
Kini prameswari bermuram durja 
Bertongkat rantai kejenuhan 
Kebimbangan wajah terlukis
Tercermin duka pada jernihnya air kolam 
Berteman angin dan hujan  
Menyalami bintang, rembulan dan mentari
Tapi mengapa semua hanya bisa menebar hening ?
Kini hanya tertinggal satu asa
Kelakar waktu suguhkan tawa ceria
Menghibur hati sepi
Tanpa tambatan jiwa.




Minggu, 03 April 2011


B.I.N.T.A.N.G. H.A.T.I.
Oleh Andy Nurvita Pada 03 April 2011.

Kadang aku letih 
Saat berpetualang mencari dimana dirimu
Kadang aku jenuh 
Saat mencoba menguak tabir tentangmu
Kadang aku muak 
Menunggu waktu menyuguhkanmu  
Seolah aku ingin mengusirmu saja 
Melenyapkanmu dari dalam pikiranku !
Aku tak tahu siapa dirimu
Tetapi engkau seolah hidup dalam hatiku
Hingga malamku berselimut jiwa kosong mengharu biru
Kenapa hidup terasa hampa tanpa engkau disini ?
Aku terpuruk dalam dilema fakta kehidupan bersegi empat 
Bintang, 
Aku harap engkau merasakan 
Apa yang kurasakan
Dan aku hilang tanpa arti 
Bila engkau tak bersinar dimalam-malamku
Bintang, 
Dengarkan bisikan hatiku memanggilmu
Akulah serpihan jiwamu 
Yang terhempas kedalam jurang waktu.

Sabtu, 02 April 2011



 S.U.K.M.A. C.I.N.T.A.

 Oleh  Andy Nurvita Pada 10 Maret 2011. 

Ketika kehadiran cinta telah dirancang menyentuh satu jiwa
Tatapan kedua bola matanya akan berbinar takjub terpanah
Sesarian kembang seroja semu terhirup bisa bahkan musnah

Rahasia cinta makin dicari mangkin menjadi racun misteri
Mistikus cinta diselami makin sukar dipahami oleh logika
Paham rasionalisme terhalang tingginya puncak bukit

Ketika magic cinta datang menyentuh hati yang terdalam
Syair-syair cinta aransemen pujangga getir menusuk dada
Hidup segan mati tak mau, hampa hidup tanpa belaiannya.

Jumat, 01 April 2011

P.E.N.E.P.U.K.

Oleh Andy Nurvita Pada 24 Februari 2011. 

 

Dibalik awan tak berbintang 
Ular-ular naga hitam pekat bermahkota
Berduyung-duyung berjalan menuruni badan gunung merapi berpasir Rembulan terlepas dari tangkainya 
Jatuh menimpa bumi menghimpit tubuh perempuan berselimut
Jeritan ketakutan tiada tara 
Kala lindu pecah membelah tanah gelegar 
Memekakkan gendang telinga menusuk rongga-rongga dada
Ksatria agung berpakaian perang lengkap 
tunggangi kuda hitam bersenjata tombak sakti ditangan kanan 
Menghela kencang laju kuda
Dalam satu kibasan angin 
Tubuh kuat perempuan tua 
kemben hijau pupus lelembut pongah roboh 
Tanpa tetesan darah diatas tanah 
Menjadi persaksian tumbal 
Kedigdayaan tombak sakti ksatria 
Dewi berparas elok jelita nan angkara murka 
Ketakutan berlari-lari 
Menyeret-nyeret tubuh perempuan berparas ayu letih
Lelaki pendek gempal buruk rupa 
Berikat kepala berjalan laksana angin 
Mengikuti mereka kemanapun pergi
Ternyata, "mereka bergerak menyelamatkan perempuan berparas ayu dari kejaran ksatria bersenjata tombak sakti"
"Pertemuan rahasia antara perempuan berparas ayu dengan pesuruh-pesuruh abadi terjadi ditengah-tengah bukit Srondol"
 "Raut wajah pesuruh-pesuruh abadi terlukis garis-garis ketakutan, kesetiaan, penggabdian kalamana sang perempuan berparas ayu hadirkan sapaan santun pada mereka"
Perempuan berparas ayu berkali-kali bertanya tetapi sang dewi bersikeras membisu, "Dewi mengapa hadirkan rasa takut, amarah dan berlari terus menembus awan, membelah hutan antah berantah, memecah gunung, bersembunyi dibalik air terjun, merangkak dibibir jurang ?"
 "Siapakah dia ?? yang masih bersemayam dalam tubuh ksatria berpakaian perang lengkap bersenjatakan tombak sakti ditangan kanannya itu ?"
Tetapi sayang seribu sayang, sang dewi tetap diam seribu bahasa
Hingga datanglah menghadap pada sang dewi
Lelaki raksasa berbadan hitam berjubah merah 
Dua taring dikepalanya menyembul keluar 
Menagih janji atas nyawa perempuan berparas ayu
Ketika tarikan nafas akhir perempuan itu diujung tanduk jari-jari raksasa
Tiba-tiba terdengar petir sambar-menyambar
Awan-awan hitam menjerit berlari ketakutan
Saat bumi bergunjang hebat 
Terlihat dengan jelas langit gelap terbelah menjadi dua bagian
Seisi alam raya disesakki kilauan berkas-berkas cahaya 
Terang benderang tiada tara
Tak ada sepasang matapun yang sanggup menantang cahaya itu 
Kecuali seisi bumi menyembah tertunduk layu
Itulah pertanda awal 
Detik-detik kemunculan Isa turun ke bumi 
Bersama Malaikat tanpa nama menyambangi mereka.


M.K.G.

Oleh Andy Nurvita Pada 10 April 2011.

Pasewakan agung meretas kegamangan hati
Pantasnya maestro penari hiburan agung binathara jawadwipa
Sihir tubuh sintalnya meluluhlantakkan mata bening hati pujangga
Belahan dadanya meledakkan pilar-pilar benteng iman pahlawan cinta
Jari jemari halus lentiknya menari seolah-olah memanggilmu santun
Berdentinglah gamelan langit menggiring tarian abadi maestro penari
Pecah keheningan kahyangan batara batari
Bunga-bunga melati tetap mekar mewangi
Burung-burung berkicau merdu ditaman langit
Awan tipis bergerak perlahan
Bulan menadah bintang-bintang
Angin sorgawi terbangkan buah simalakama
Maestro penari bersenandung lirih dibibir pantai
Berdzikir ayat-ayat moksa pelangi hati
 "Duh, Gusti hamba ini penari bukan sebatas
pemuas birahi manusia semata".

P.E.N.J.A.G.A. H.A.T.I.

Oleh Andy Nurvita Pada 27 Februari 2011. 

Aku rumput liar, biar kaki mengoyak menyembilu
Tak sudi mati sia-sia, bertongkat malu airmataku
Aku bukan cuma kuda tunggangan merayu-rayu
Jiwaku sanggup menguatkan kerapuhan jiwamu
Aku lumut hitam keras kepala sekalipun luntak tergerus
Tak sudi perangi badai, kan kuajak tidur badai
Tak sudi bantah mentari, kan kujaring mentari
Tanganku sanggup mengganti tanganmu yang tertindas
Tidak ada yang dapat menggantikan kedudukkanku
Aku adalah aku, dan cuma aku yang bisa duduk disisimu.

G.A.N.E.S.H.A.

Oleh Andy Nurvita Pada 28 Februari 2011. 

 

Ganesha, kumengadu pada rinai-rinai hari berlari-lari
Tangan-tanganku menanti tangan-tanganmu menari
Kapan lagi, jari-jariku dapat menggelitik-litik perutmu
Agar berkejar-kejaran gelak tawa riuhmu, kumerindu

Ganesha, hadirmu panjatan doaku memanggil takdirku
Mengenang hela demi hela kelembutanmu, membiusku
Nyata tidak?, kini menusuk-nusuk pusat syaraf sendiri
Langit, dimana benua tempat kau tanamkan harta ini?.

D.E.S.I.R.A.N. R.I.N.D.U.

Oleh Andy Nurvita Pada 08 Maret 2011.


Jari jemariku yang lucu, tak jera-jera mengajak aku menari
Mereka tak bosan-bosan memintaku mendendangkan lagu
Bibir-bibir kenyal pun ikut-ikutan, suguhkan senyuman nakal
Getaran dua tanganku terasa nyata saat mataku melihat kamu

Mimpikah aku ?, Oi bangunkan aku dari tidurku ini !!
Jangan biarkan aku, kembali ke alamku dengan sia-sia !!

Kedua bola mataku tak letih-letih juga, mengejar cahaya terangmu
Mereka menjerit, kala aku enggan menatap bintang dipangkuanmu
Kadang logika angkuh lafazdkan ayat-ayat langit ditelingaku, takut !
Kerinduan akan aroma wangi tubuhmu membuatku bertahan disini

Cakar-cakar hati masih mencengkeram dengan kuat satu kenangan
Kehidupan dunia dimana aku ada karena engkau ada, nyatakah ini ?
Betulkah, seberkas cahaya yang berteduh dipangkuanmu punyaku?
Dewi, bebaskanlah aku ! aku ingin bebas terbang tinggi ke angkasa

Hanya bersama dia, cuma dia saja ;)

S.E.N.A.N.D.U.N.G.  H.I.T.A.M.

Oleh Andy Nurvita Pada 10 Maret 2011.

 

Cumbu rayu racikan pelangi hadir disela tawa renyahnya

Kata-kata mesra merayu tersemat amat manis dibibirnya

Kerlingan matanya, pegang peran penting arah obsesinya

Azimat kalimah sakti menusuk tajam nestapa pemujanya 

Pernahkah, kau coba renungkan tawa dan tangis abadinya sayang?

Bila benar kau yang terhebat, manalah mungkin engkau telah luput

Pernahkah kau sadari tawa dan tangis abadinya dimasa itu sayang?

Masa dimana kau telah luput memilih jantung hati belahan jiwamu.

M.A.K.H.L.U.K.  R.A.W.A. 

Oleh Andy Nurvita Pada 12 Maret 2011. 

Angin, katakanlah padaku
Apakah aku pernah melakukan salah sebelum aku dilahirkan ke dunia ini?
Sehingga roda kehidupan demikian rakusnya merobek-robek jantungku!
Menggilas-gilas tulang belulangku, merenggut kebahagiaan dari hidupku!

Penjaga Laut Merah, katakanlah padaku
Apakah aku pernah durhaka pada langit sehingga api merajangku hidup?
Apa ayat-ayat keparat pada telapak tangan kananku ini adalah kuncinya?
Jika kau tak dapat memberiku jawaban, aku akan duduk diatas tahtamu!

Wahai manusia tanpa wajah mendekatlah kepadaku dan letakkan kedua tanganmu didadaku
Rekam detak kencang amarahku lalu tadahlah darah segar yang mengalir dari sobekan lukaku
Jika aku tak pantas lagi mengadu kepada Radjaku, mampukah aku dapat melabuhkan dukaku
Angin, jika tugas kewajiban ini tak mampu kuemban, maka kembalikan aku kedasar samudera.

I.N.S.P.I.R.A.S.I.  B.U.A.Y.A. 

Oleh  Andy Nurvita  Pada 11 Maret 2011.

 

Tanpa gerutu menanti dengan penuh kesabaran
Diam tak bergerak lantas bukan molor namanya
Tetapi medan telah berada dibawah kendalinya

Naik turun nafas dengan teratur tanda ketenangan
Tanpa berkedip, kedua mata menatap tajam target
Sesekali mata melirik mengawasi kondisi sekeliling
Membaca situasi tanpa perlu banyak polah berarti

Saat target mangsa lengah membuka satu peluang
Buaya bergerak memburu begitu cepat menyergap
Taring-taringnya menggigit leher mangsanya
Darah segar muncrat dari leher si mangsanya

Ekornya adalah senjata sakti pelumpuh mangsanya
Ekor bergerak lincah hempaskan tubuh mangsanya
Mangsa tak mampu berkutik selain bongkok pasrah
Menunggu nyawa terengut dari raga bertemu Allah.

C.I.N.T.A.  S.E.J.A.T.I.

Oleh Andy Nurvita  Pada 11 Maret 2011.

 

Sudah lama aku menunggu kedatanganmu, wahai sembadha!
Bertahan hidup ditengah-tengah keterasingan demi janji hati
Teramat lama aku tenggelam menunai tangis kepedihan hati
Apakah kita akan bersatu seperti kala itu lagi kekasih hatiku?

Aku terluka saat melihat dirimu berlalu bersama dirinya
Aku tidak kuasa menyapamu yang tak lagi mengenal aku
Hidupku dirundung pilu, tidak ada yang dapat menjadi penawar
Badha janji hatimu masih terbungkus rapi kertas ungu nirwana

Badha, engkau telah melupakanku dan tak lagi mengenaliku
Hingga aku sematkan hatiku, pada bintang diatas langit sana
Agar hatiku dapat menghangatkanmu dimanapun dirimu ada
Airmatakupun menjelma menjadi mata air tak berkesudahan


W.I.R.A.

Oleh  Andy Nurvita  Pada 12 Maret 2011.

 

Wira, sampai detik ini aku belum dapat memaafkan diriku sendiri  

Rasa bersalahku padamu tidak mungkin terhapus oleh waktu

Wira, langitku bagai runtuh sejak aku kehilanganmu 

Engkau teman sejatiku yang takkan pernah tergantikan 

Kadang meradang pilu kerinduanku padamu Sahabat!

Syairku tak lagi bernyawa sejak engkau pergi

Tak ada yang dapat mengerti aku sebaik pengertianmu Sahabat!

Kepergianmu yang teramat cepat jadi pukulan terhebat untukku

Kapan lagi, kita dapat menulis sajak kehidupan seperti tempo dulu?

Kapan lagi, kita dapat melintasi jalan kenangan beriring derai tawa ?

Kapan lagi, kita dapat tunaikan shalat dan engkau sebagai imamnya ?

Kapan lagi, kita dapat melukis kaki kehidupan puncak perbukitan ?

Andaisaja waktu itu aku lebih pandai menterjemahkan firasat tentangmu

Tentu engkau masih menemaniku disini mendengar segala kisahku

Andaisaja waktu itu aku lebih pandai membaca semburat kalimatmu

Tentu engkau takkan pergi meninggalkanku tanpa terucap satu kata.

 


R.O.H. C.I.N.T.A.

Oleh Andy Nurvita Pada 15 Maret 2011. 

 

Diam-diam penguasa angin telah melarikanku kesebuah negeri diatas awan
Singgasana istana angin adalah tempat dia menyembunyikanku dari engkau
Asalku adalah api, bertuturlah prajurit langit "angin lebih kuat daripada api"
Andai angin bertiup sangat kencang, tubuhku akan mudah terbawa olehnya
Aku tak tahu, mengapa penguasa angin tega melakukan semua ini padaku ?
Yang cuma kutahu, "suara hati kamu terus saja bergema memanggil namaku"
Bisikan lirih prajurit takdir "separuh jiwaku lekat dibahu sebelah kananmu"

Mata hatiku melihat gapura cermin kehidupanku ada dalam genggamanmu
Aku ingin turun kembali ke bumi bersemi dibawah keteduhan mata hatimu
Tetapi tangan dingin penguasa angin mencengkeram kuat tangan-tanganku
Prajurit langit parau berkata "magic syair romansamu kunci kebebasanku"
Aku butuh 7 magic-magic syair romansamu tembang kenangan rinai hujan
Syair-syair itu akan merasuk dalam roh cintaku terangi gelap gulita jalanku
Lorong-lorong jalan menuntunku kembali pulang bernaung didalam hatimu.

 

K.E.J.A.R.  D.A.K.U.

Oleh Andy Nurvita Pada 15 Maret 2011.

 

Binal matamu
Jalang celotehmu
Aku suka 
Seronok gayamu
Cadas lidahmu
Membiusku
Angkuh sikapmu
Cerdas otakmu
Merobek jantungku
Liar birahimu
Tajam nalurimu
Merangsangku
Indah tulisanmu
Gombal katamu
Merusak lamunanku
Narzis sikapmu
Tak beraturan emosimu
Memanggil rinduku
Nakal otakmu
Pecemburu hatimu
Merajam pikiranku
Kejar daku
Kau ku tangkap happ !!.

M.E.G.A.L. M.E.G.O.L.

Oleh Andy Nurvita Pada 17 Maret 2011.

 

Megal megol pinggul mega cinta
Ringkikan kuda catur kahyangan
Megak panggul lenggak lenggok
Menjerang panas bumi menyalak


Mulut rakus aji gendam kasmaran
Mendengung ajian warta jahiliyah
Tetaskan penawar obat mujarab
Mega cinta setia bermanja-manja


Topeng obsesi bisikan symphoni
Ki Ageng Mangir mengucap cinta
Simpuh tunduk dimata kaki radja
Pertaruhkan jantung untuk cinta


Hanya detak jantung jawabannya
Melepas kerinduan belenggu hati
Sentuhan fantasi manis cairan liur
Hadirkan kuas malam-malam bugil.

H.U.T.A.N. P.I.N.U.S.
Oleh Andy Nurvita Pada 20 Maret 2011. 


Marilah kantil, mari segera kita seberangi jembatan tali temusang menggantung ini

Diujung sana hutan pinus bersama mentari telah mulai bosan merajut kenangan kita

Lihat kantil ! ijo royo-royo dedaunan pinus melambai melukis siapa kita dimasa lalu

Diatas hamparan ijo zamrud daun-daun pinus kita adu kasih merabuk bara asmara


Riuh lembayung cinta bertopang dagu soko kecerdikan nyentil pondasi rapuh cinta

Musim berjalan dari timur kebarat, selatan keutara tak jua menuai tahta hati dicari

Roboh duniaku cuma dengan ornamen kantil asmaramu asmaraku tak lekang masa

 Kantil, ijinkan aku berlutut diantara kedua kakimu melukis tato hati ijo hutan pinus.